Previous Entry Share
[Kink Meme] Cara Mengisi Kink Meme
s.n.s
demon_heaven wrote in sasukenarutoina
---
FAQs & Rules Cara Mengisi Kink Meme
Kink Meme Part 1
---


Halo, selamat datang di thread cara mengisi kink meme di sasukenarutoina! :3

Jadi, kawan mau ikut bermain di Indonesian Sasuke & Naruto Shrine Kink Meme, tapi masih bingung bagaimana caranya? Nah, di sini akan diberitahukan cara mengajukan prompt dan mengisi fill, jadi silahkan kawan baca terlebih dahulu sebelum mengajukan prompt dan mengisi fill. Kawan juga sebaiknya membaca FAQs & Rules sebelum bermain.

DIHARAPKAN UNTUK TIDAK MEMBERIKAN KOMENTAR APAPUN DI THREAD INI. Jika ada pertanyaan, silahkan mengajukannya di FAQs & Rules.

[ [~CATATAN~] Read this before you read anything else!]

-

& CATATAN &

1. Diharapkan untuk selalu menjadi anonymous saat bermain di kink meme. Tidak apa jika kawan ingin mempublish fill kawan di tempat lain secara de-anon, tetapi saat memberi postingan di sini, baik itu request, fill, ataupun komentar, lebih baik kawan menggunakan fitur anonymous. Untuk memberi komentar secara anonymous, klik 'More options...' yang terdapat di bawah kolom tempat kawan akan memberikan komentar, lalu pilih 'Anonymous' dari scroll down yang ada di sebelah tulisan 'From:'.

2. Sistem komentar LJ tidak memberikan fitur edit yang sama seperti saat ingin memberikan sebuah postingan, sehingga kawan harus menggunakan kode HTML untuk mengedit fill kawan. Misalnya, jika kawan ingin membuat cetak miring, kawan harus menggunakan tag < i >.

3. Setiap fill dan prompt berbentuk komentar yang ada pada postingan KINK MEME di sasukenarutoina, BUKAN membuat postingan baru. Postingan KINK MEME selanjutnya akan dibuka lagi oleh moderator, dimulai dari PART I, PART II, hingga seterusnya jika part sebelumnya dianggap sudah terlalu penuh.

4. Sangat dibolehkan jika kawan ingin mengupdate beberapa chapter dalam sehari.

5. Kawan boleh juga mengisi prompt yang tersedia dengan fanart, bukan hanya dengan fanfic.

6. Silahkan memberi komentar (berupa review, concrit, atau apresiasi) di manapun yang kawan suka; tetapi ingat kalau di sini ada peraturan yang harus kita patuhi. :)  Kawan juga boleh kok membuat fanart 'hadiah' untuk author dan memberitahunya lewat komentar, jika kawan menyukai fill tersebut.

7. Jika kawan ingin memberi link request yang menarik untuk diisi, atau ingin merekomendasikan fill yang keren, kawan tinggal menekan/menyalin link 'Thread' yang ada di komentar request maupun fill.

8. Contoh request dan fill bisa dilihat di komentar yang ada di bawah postingan ini.



-

[[~CARA MEMBERI REQUEST~] ]

{CARA MEMBERI REQUEST{

Seperti yang telah dijelaskan pada poin 3 di catatan, request dan fill hanyalah berupa komentar di postingan Kink Meme yang telah disediakan, bukan dengan membuat postingan baru di community sasukenarutoina. Silahkan lihat gambar di bawah ini.

Kawan hanya perlu menekan 'Leave a comment' untuk memberikan request prompt di postingan yang telah disediakan.

Diharapkan untuk meringkas inti prompt sedemikian rupa di judul komentar.

-

[[~CARA MEMBERI FILL~]]

{CARA MENGISI FILL{

1. Klik 'Reply' pada komentar yang berisi request untuk memberi fill maupun fanart.

2. Jika fill terdiri dari dua atau lebih chapter, selalu klik 'Reply' yang terdapat pada CHAPTER 1 di fill yang telah kawan berikan untuk mengisi chapter-chapter selanjutnya.

3. Harap memberi tag [FILL], judul, dan nomor chapter di judul komentar.


 ~ Keuntungan format ini ~

1. Fill kawan akan dapat dibaca dengan mudah, karena tersusun 'rapi' dan tidak mengganggu kelebaran board LJ (tidak memperlebar board).

2. Kawan-kawan yang lain dapat memberi komentar dengan mudah untuk chapter tertentu, karena komentar mereka tidak akan menganggu format fill kawan, dan kawan juga dapat membalas komentar mereka dengan mudah.

3. Fill kawan akan dapat ditemukan hanya dengan memberikan satu link, yaitu link 'Thread' yang ada di chapter 1 fill kawan. Hal ini akan mempermudah penyusunan di list prompt yang sudah terisi.

4. Jika dalam satu prompt terdapat dua atau lebih fill, maka format seperti ini akan mempermudah pembacaan SERTA pembedaan dari dua atau lebih fill yang ada. (jika ingin membaca, kawan-kawan yang lain tinggal menekan 'Thread' di chapter 1 yang ada di fill kawan, dan fill yang lain tidak akan terikut). Masing-masing fill tidak akan terganggu jika author yang lain ingin mengupdate ceritanya, karena fill mereka sudah punya threadnya masing-masing (maksud dari thread adalah bahwa semua chapternya terkumpul karena di-reply pada chapter 1).

-
T Come and enjoy the game! T
-

  • 1

[FILL] Sendiri [1/?]

(Anonymous)
Jadi, di sinilah dia.

Berdiri di tengah ruangan kosong dengan bau debu menusuk hidungnya, membuat perih matanya.

Ini adalah kediaman Uchiha yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan, ah, rasanya tidak aneh jika tempat ini sudah dihancurkan bahkan sebelum perang shinobi dimulai--dengan status klan kebanggaannya yang ternyata berupa duri dalam daging, tentu saja dia tidak perlu merasa aneh.

Tapi ternyata, tempat ini masih utuh.

Kayu-kayu penyangga rumah masih berdiri. Lantai kayunya juga belum lapuk, hanya sedikit berdecit saat diinjak dan licin karena lapisan debu. Semua bekas darah bekas malam pembantaian itu juga masih ada, Sasuke yakin bekas-bekas traumatis itu masih di sana walaupun debu tebal dan sarang laba-laba telah menutupi warna dan baunya.

Bekas-bekas itu juga tidak hilang sewaktu dia masih tinggal di sini untuk beberapa tahun. Di matanya, di benaknya, bekas darah itu akan selalu ada. Baunya juga selalu terekam di indera penciumannya. Ingatan tentang malam itu, ingatan saat Itachi membunuh--

--menggelengkan kepalanya untuk menghapus memori yang tidak menyenangkan, ia berjalan lebih jauh, menelusuri rumah tempat tinggalnya dahulu.

Tapi dia tersadar bahwa melakukan hal itu hanya akan membuatnya semakin teringat akan hal itu.

Posisi perabotannya juga tidak berubah. Meja makan masih terletak di ruangan yang menghadap ke halaman belakang, lemari piring juga masih berdiri meski Sasuke bisa melihat bagian-bagian yang berlubang karena dimakan rayap, dan saat matanya menangkap pigura foto yang ditelungkupkan di atas meja hias, dia membatu.

Berusaha menyangkal kalau tangannya bergetar saat menjulur untuk melihat pigura itu, Sasuke meniup debu tebal yang menutupinya. Debu-debu itu beterbangan, membuat matanya perih, dan dia akhirnya berani untuk membalikkan pigura itu untuk melihat fotonya.

Di sanalah terlihat sebuah foto keluarga yang sempurna, dirinya yang masih bayi digendong oleh ayah dan ibunya dan Itachi berdiri di tengah, tersenyum menghadap kamera.

Dia teringat saat itu. Dia teringat saat di mana dia tidak perlu kesepian meski tujuan hidupnya hanya untuk mengejar Kakaknya, dia teringat saat di mana Itachi menyentuhkan dua jarinya ke dahinya--saat-saat di mana dia merasa sebal karena kakaknya jarang sekali menemaninya...tetapi dalam hatinya merasa nyaman karena tahu kakaknya akan selalu ada di sana jika dia membutuhkannya, saat-saat di mana ayahnya, meskipun sering sekali kecewa dengannya, masih mau menemaninya latihan dan saat-saat di mana ibunya akan tersenyum lembut sembari menasehatinya jika dia mengadukan tingkah laku ayahnya.

Saat-saat di mana ada yang menemani. Saat-saat di mana dia tidak sendiri.

Sasuke melemparkan pigura itu ke ujung ruangan, kemudian memukul lemari usang di sebelahnya hingga hancur berkeping-keping. Darah menetes dari buku jarinya, beberapa serpihan kaca dan kayu menempel di kulit putihnya tapi dia tidak peduli.

Satu-satunya yang terasa hanyalah rasa perih di matanya, panas dan menusuk, dan Sasuke yakin itu bukan karena debu.

[FILL] Sendiri [2/?]

(Anonymous)
Uchiha terakhir itu terus memukul apa saja yang terlihat--meja, kursi, kaca, apapun--untuk mengurangi rasa pedih di matanya. Tapi usahanya nihil. Setiap kali tangannya yang sudah kacau karena serpihan kaca dan kayu itu menghancurkan perabotan lapuk di rumah lamanya, matanya malah terasa semakin perih. Hingga dia gusar dan menggosok pipinya yang terasa gatal.

Dia terkejut saat menemukan pipinya basah.

Dia telah menangis.

"...apa ini?" dengan sebuah dengusan lirih, dia merosot ke lantai. Di tengah-tengah ruangan yang hancur, tangan yang berdenyut dan kepala yang terasa pusing, dia menjatuhkan diri. Sasuke membawa bagian lengannya yang tidak terkena kaca untuk menghapus jejak air matanya, namun hal itu malah membuat aliran air mata semakin deras keluar, dan dia tidak tahu harus berbuat apa selain menjeritkan rasa frustasinya.

Menjerit. Meraung. Membiarkan air mata membasahi pipi dan membuat mata terasa perih, amat perih. Membiarkan tangisan histerisnya menusuk syaraf di kepalanya hingga mereka berdenyut, membuatnya merasakan pusing yang seharusnya tidak tertahankan.

Seorang Uchiha tidak seharusnya menunjukkan air mata. Seorang Uchiha tidak seharusnya menangis. Seorang Uchiha tidak seharusnya sedih hanya karena dia sadar kalau dia tinggal sendiri. Seorang Uchiha tidak seharusnya menangis hanya karena dia sadar tidak akan ada orang yang sudi menemaninya lagi setelah apa yang dia lakukan selama ini dan itu berarti dia harus sendiri selama sisa hidupnya--

"...Sasuke."

--dan tidak seharusnya juga ada yang melihatnya di saat seperti ini.

[FILL] Sendiri [3/?]

(Anonymous)
Naruto tidak bermaksud untuk menjadi stalker dadakan. Tidak. Tidak sama sekali.

Memang sih, dia mengikuti Sasuke pulang ke kediaman Uchiha dengan diam-diam, agar pemuda itu tidak mengetahui bahwa Naruto memantau keadaannya. Tapi bukan berarti dia stalker, bukan.

Pemuda berkulit sawo matang itu hanya ingin memastikan kalau Sasuke tidak kabur lagi, ingin memastikan kalau ya ampun, Sasuke, Sasukenya, benar-benar telah kembali ke Konohagakure tercinta ini dengan selamat dan tidak akan pernah pergi lagi dari pandangan matanya.

Dia benar-benar senang, senang sekali hingga rasanya dia ingin melompat ke pelukan Sasuke dan memeluknya hingga pemuda itu sesak napas atau bahkan mengeluarkan air mata karena pelukannya terlalu mematikan.

Namun dia tidak menyangka kalau Uchiha bungsu mengeluarkan air mata secara histeris setelah memorak-porandakan isi kediamannya.

Karena itu, hal yang bisa Naruto lakukan hanya diam. Diam, mengamati dari jarak yang aman karena demi segala bijuu yang ada di dunia ninja, Naruto tahu bahwa mengganggu Sasuke di saat-saat rapuh bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.

Naruto tahu betul bahwa Sasuke memandang tinggi hal yang bernama harga diri, dan jelas, harga dirinya akan benar-benar terluka jika dia tahu ada yang melihatnya di momen tersensitifnya.

Tapi saat ia mendengar tangisan itu, raungan pedih itu, keputusasaan yang keluar dari setiap tetes itu…

Naruto berusaha bungkam saat sebuah kunai melesat menggores wajahnya setelah dia memanggil nama pemuda yang dicintainya itu.

-

Sasuke melempar apa saja yang ada di sekelilingnya-vas bunga, kaki meja yang lapuk, kursi, kunai, kusanagi…—untuk dapat mengusir Naruto, membuat pemuda itu mundur dan tidak melihatnya di saat-saat lemah seperti ini, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Alih-alih berhenti saat vas bunga pecah mengenai kepalanya, Naruto malah terus berjalan maju, mendekatinya perlahan, ekspresi terluka muncul di wajahnya… dan itu bukan karena vas bunga.

Meskipun tangannya terus menemukan barang baru untuk dihantamkan ke pemuda di hadapannya, Sasuke kaget melihat raut wajah itu.

Kenapa kau memasang ekspresi seperti itu?

Bukan kau yang terluka.

Bukan kau yang depresi.

… Bukan kau yang sendiri…


Di saat tangan Sasuke yang tercabik oleh kaca melemparkan pigura yang tadinya dia lempar ke ujung ruangan, dia tersadar kalau dia sudah merangkak mundur dan terjebak di sudut. Frustasi karena tidak ada lagi ruang untuk lari, pemuda raven itu mendadak lemas, bahunya yang bersandar di dinding merosot perlahan.

Oh, biarlah. Dia sudah lelah.

Dia merasakan air mata hangat meleleh dari matanya, dan saat dia ingin menutupi keadaan wajahnya yang menyedihkan dengan tangan berdarahnya, Sasuke menemukan tangan yang besar dan hangat mencegahnya.

“Jangan, Sasuke,” suara Naruto terdengar pelan dan serak dan simpatik dan Sasuke tidak tahan dengan pemikiran bahwa dirinya dikasihani oleh Naruto sehingga dia menampar tangan itu. Hal itu hanya membuat Naruto tersentak sebentar, sebelum akhirnya menguatkan pegangannya namun mencegah tempat yang terkena kaca agar Sasuke tidak merasa kesakitan.

“Berhenti menyakiti dirimu sendiri.”

LOL

(Anonymous)
Naruto, dasar stalker. #plak

...tapi penasaran dong. Di akhir rasanya bisa ngebayangin muka Naruto yang nyuruh Sasuke berhenti menyakiti dirinya sendiri sadfghjksfjasnfkjf

[FILL] Sendiri [4/5]

(Anonymous)
“Tinggalkan aku sendiri,” desis Sasuke, dengan suara yang lebih pelan dan lebih serak hingga Naruto harus menajamkan telinga untuk dapat mendengarnya. Saat Naruto tidak melonggarkan genggamannya, Sasuke menyentakkan tangannya sekuat mungkin dan menghardik jinchuuriki Kyuubi itu. “Lepaskan!”

“Tidak mau.”

Pemuda Uchiha yang sempat mendeklarasikan ingin menjadi Hokage itu terpaku mendengar nada tegas yang keluar dari bibir Naruto.

“Aku tidak akan melepaskanmu,” Naruto membenamkan kepalanya di bahu Sasuke, menghirup aroma tubuh yang sudah dirindukannya selama ini “tidak akan pernah. Meskipun kau mengusirku, menusukku dengan kusanagimu, bahkan mengambil cita-citaku suatu saat… aku akan tetap berada di sampingmu, Sasuke.”

Lelah dengan segala reaksi penolakan yang dia keluarkan sedari tadi, Sasuke memutuskan untuk ikut mengistirahatkan kepalanya di bahu Naruto. Isakan-isakan kecil masih keluar dari bibirnya, tapi Naruto tidak berkomentar apa-apa tentang itu. Mereka terdiam beberapa saat di posisi tersebut sampai Sasuke membuka suara.

“…tapi kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” bisiknya.

“Percayalah padaku, Sasuke,” helaan napas Naruto menggelitik lehernya, namun kehangatannya membuat Sasuke merasa nyaman. “Apapun yang terjadi pada masa depan, aku… aku akan tetap bersamamu.”

Ia belum yakin bahwa Naruto tidak akan pernah meninggalkannya. Bukannya dia tidak percaya, ah, Naruto sudah menepati janjinya untuk membawa Sasuke pulang ke Konoha, iya kan? Hanya saja… Sasuke belum yakin. Ia mencintai Naruto, sungguh, meski dia terlalu malu untuk mengakuinya. Ia percaya kalau pemuda itu bersedia berada di sisinya, tapi bagaimana jika takdir berkata lain?

Bagaimana kalau pada akhirnya, Naruto akan pergi, meninggalkannya—sama seperti Itachi?

Bagaimana kalau itu terjadi?

Sasuke tidak akan bisa bertahan di dalam kesendirian.
“Kau tidak akan pernah tahu,” setiap perkataan dikeluarkan Sasuke dengan tekanan pedih. “Sama seperti Itachi. Seperti orang tuaku. Semua berkata mereka tidak akan pernah meninggalkanku, tapi kenyataannya? Aku sendiri. Selalu.”

“Kau punya aku sekarang.”

Nada kalem itu malah membuat darah Sasuke mendidih.

“KAU BISA BERKATA SEPERTI ITU SEKARANG, NARUTO!” masa bodoh dengan imej tenang seorang Uchiha, hati Sasuke terlalu hancur untuk mempedulikan hal sesepele itu. “Kau tidak tahu rasanya ditinggalkan! Kau—kau yang tidak punya apa-apa dari awal! Kau bahkan sudah punya segalanya sekarang! Siapa yang akan tahu, mungkin beberapa tahun lagi kau akan jadi Hokage—ha, itu pasti—dan aku… aku hanyalah seorang mantan pengkhianat desa! Bagaimana kau bisa tahu kau akan selalu—”

Sebuah kecupan di keningnya membuatnya terdiam, mengubah argumennya menjadi lelehan air mata.

[FILL] Sendiri [5/5]

(Anonymous)
“Masa sekarang adalah yang terpenting, iya kan?” kilauan rasa yakin di safir Naruto menjebak Sasuke dalam pesonanya. Kedua tangannya memerangkap pipi Sasuke. “Aku di sini. Kau tidak sendiri. Itulah yang harus kita syukuri… iya kan, Sasuke? Orang lain bisa menganggapmu sebagai pengkhianat desa, terserah, tapi aku akan mencoba segala yang aku bisa untuk membuatmu merasa diterima kembali… Untuk menjauhkanmu dari kesendirian… Hingga akhirnya semua bisa kembali seperti dulu, kita menjadi rival untuk memperebutkan jabatan Hokage—hanya saja lebih baik karena aku tidak perlu berpura-pura mencibir saat melihatmu dikagumi oleh banyak orang. Ahaha, bahkan aku akan jadi orang yang akan mengatakan, ‘Lihat, sudah kubilang ‘kan, Sasuke itu hebat!’ pada mereka,” senyum kecil muncul di bibir pucat Sasuke saat mendengar kekehan Naruto.

Sasuke memejamkan oniksnya, berusaha meresap kehangatan dari tangan besar yang ada di kedua pipinya. Dia merasakan jejak airmatanya dihapus oleh sapuan lembut, sebelum sapuan itu digantikan dengan ciuman-ciuman kecil dan Naruto melanjutkan kalimatnya.

“Tentu, aku juga tidak bisa mengatakan apa yang akan terjadi di masa depan… aku tidak punya kekuatan untuk itu, tetapi aku yakin kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Ada kalimat ‘seperti Itachi dan orang tuamu’ yang menggantung di udara, keduanya sama-sama tahu itu, namun tidak ada yang terlalu peduli untuk mengatakannya. Sasuke mendengus geli.

“Heh. Sejak kapan kau jadi pintar berbicara, Dobe?”

Bibir yang ada di pipi Sasuke tersenyum, dan saat Naruto menarik kepalanya, sinar matanya jauh lebih cerah dibandingkan senyum siapapun saat perang ninja berakhir.


“Entahlah, mungkin latihan menggombal yang diajarkan guru Kakashi selama kau pergi ada gunanya juga,” Sasuke nyaris tidak tahan untuk mencubit pipi Naruto saat melihat cengirannya. “Ayo, kita perlu mengobati lukamu. Nanti infeksi.”

Sasuke menggelengkan kepalanya, sebelum membenamkan kepalanya di dada Naruto dan menarik belakang jaketnya untuk mengeratkan pelukannya.

“Biarkan saja, aku tidak peduli. Aku ingin… seperti ini untuk beberapa saat lagi,” saat Naruto ingin membuka mulut untuk protes, Sasuke melanjutkan kalimatnya, “Nona Tsunade dan Sakura terlalu cerewet.”

Naruto terkekeh pelan dan mengusap helaian hitam milik Sasuke dengan lembut.

“Yah, kurasa ada benarnya juga,” Naruto menghirup aroma Sasuke dari ujung kepalanya. “Tapi aku tidak mau lukamu menjadi parah hanya karena itu.”

“…lima menit?” Sasuke makin membenamkan kepalanya. “Aku… sedang ingin berdua bersamamu.”

Kalimat itu nyaris membuat jantung Naruto berhenti.

“…oke, kau menang.”

“Heh, aku selalu menang darimu, Usuratonkachi.”

Naruto hanya tertawa, dan balas memeluk Sasuke dengan erat.

Yah, mereka sudah tahu bahwa mulai sekarang, mereka tidak akan pernah lagi sendiri.

-

FIN.

-

  • 1
?

Log in